Kembali ku bersitatap dengan sahabat karibku, sebuah jam dinding yang tak terlalu istimewa. Namun, menyimpan sejuta pendar peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kontelasi waktu. Saling berbenturan antara baik dan buruk. Ia menjadi saksi, bersama dengan sudut-sudut bangunan lainya. Sebuah kisah tentang pergulatan mencari jati diri. Merekalah dalang. Pelaku inti dari pergesekan ruang dan waktu bernama. . . Peradaban.
Dari diriku telah banyak terlahir insan-insan penggapai impian. Mereka yang meretas mimpi melalui jalur pendidikan. Melalui kacamata alam, telah banyak kusaksikan beragam insan melalui terjal jalan kesuksesan. Kawan, kau tahu. Saat kau tiada nanti, hari-hariku menjadi sepi. Takkan kudengar lagi suara candamu, suara saat kau memaki, tertawa, dan saat kau berasyik-masyuk memandang bintang di atas loteng kamar mandi.
Kawan, aku tahu. Kau bersungguh-sungguh dalam meretas mimpimu. Jam dinding mengabarkan padaku, di setiap malam kau hitung dan kau corat-coret rumus-rumus matematika. tanpa kau sadari, waktu telah berjalan begitu cepat. NAmun kawan, terkadang hatiku sedih. Kau yang bersaungguh-sungguh tak ubahnya seperti biji sawi diantara reruntuhan pasir. Banyak dari temanmu yang tak mengerti arti sebuah persiapan. Mereka hanya menghabiskan waktunya dengan canda dan tawa.
kawan, disuatu malam aku mendengar. Dari klanmu yang suka berceloteh bersama bintang.
"Selagi matahari masih terbit,, Disitu harapan masih terwujud..."
Akan tetapi kawan, mentari itu perlahan menghilang. Terselimuti awan. dan pudarlah seluruh impian. Saat kau dewasa nanti, mimpimu menjelma menjadi sebuah harapan.
Kawan, aku tak terlalu mengerti tentang mimpi dan harapan. Karena aku akan selalu sama seperti saat aku ter4lahir hingga aku akan lenyap dari pergesekan ruang dan waktu. Namun, izinkan aku untuk menyampaikan sebuah petuah. Yang kudapat dan kusatir dari reruntuhan peradaban.
Kesuksesan adalah buah dari apa yang selalu kau pikirkan dan kau ucapkan. Saat kau bertekad untuk sukses, seluruh dimensi ruang dan waktu akan membantu mendukungmu menuju esuksesan tersebut. Untuk itu kawan, sebelum kalian semua pergi. Cobalah renungkan walau sejenak apa yang kau cita-citakan, apa harapanmu saat kau tua nanti, dan iangin seperti apakah dirimu saat kau dewasa nanti. Ketahuilah sobat, bahwa segala sesuatu yang bergerak akan terus berefolusi, bermetamorfosis. Entah itu menjdi baik atau menjadi buruk, semuanya tergantung saat ia bergerak. Untuk itulah, selalu bergeraklah kalian menuju kebaikan.
Kawan, tak mau lagi aku berpanjang kata. pesan terakhirku :
"Setiap peradaban mempunyai kisah dan ciri tersendiri. Suatu peradaban adalah cerminan dan perbaikan peradaban sebelumnya. Dan ingatlah, bumi itu bulat. Di saat Timur bersinar, maka Barat gelap gulita. Mereka bersinar silih berganti. Ketahuilah, bahwa keadaanmu tak ubahnya bumi belahan timut dan barat. Kau akan merasakan hangatnya sinar dan pekatnya malam. Inilah implikasi dari kehidupan. Disinilah trdapat suatu proses pembentukan bagi seluruh umat manusia. Ya, disinilah letak ujian.
Maha benar Firman Allah Subhanahu Wata'ala di dalam Firman-NYa.
" Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ," kami telah beriman" dan mereka tidak diuji. Dan sungguh, kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta" ( Q.S : Al-Ankabut. 2-3)
JAngan takut kawan, seperti perkataan kawanmu sebelumnya. "Selama matahari masih terbit, disitulah harapan akan senantiasa terwujud. Walau matahari akan terbenam, namun mimpimu akan terus bersinar. Ukirlah mimpimu dengan tinta emas. Agar saat matahari mulai terbit, sinarnya membiaskan cahaya mimpimu ke seluruh cakrawala. Mengabarkan bahwa mimpimu tak akan redup walau mentari itu akan terbenam. Dan disaat malam, mimpimu akan menjelma menjadi cahaya purnama.
Kawan, kuharap kau takkan melupakan masa-masa saat kau belajar mencari jati diri. Disini, di Bumi Husnul Khotimah. Aku berjanji padamu kawan, semua kenanganmu akan selalu kukenang dan akan ku putar disaat langit tengah bermandikan cahaya rembulan. Bersama bintang-bintang yang selalu tersenyum riang, kuceritakan tentanmu wahai penerus peradaban. Hingga air mata ini tak mampu lagi mengeluarkan kristal-kristal kerinduan padamu kawan . . .
T H E E N D